Jumat, 06 Februari 2009

Surat dari Sdr. Kiki


Assalamualaikum wr.wb
Nama saya kiki, saya sedang membutuhkan kitab siril asror denganhuruf gundul
arab. Saya membaca di blog bapak, saya sangat tertarik sekali. Bagaimana apabila
saya ingin mendapatkan kitab tsb.. Terima kasih.

--------------------------------------------------------
Silahkan ikhwan dan akhwat yang memiliki informasi tentang kitab sirul asrol dengan huruf gundul bisa berbagi dengan Sdr. Kiki, terimakasih. iQ


Minggu, 28 Desember 2008

ACARA MANAQIB DI MASJID KUBAH EMAS dan MASJID ISTIQLAL

Insya Allah akan diadakan Manaqib Tuan Syech Abdul Qadir Jailani pada :

1. Hari/tanggal : Sabtu, 17 Januari 2009
Jam : 08.00 pagi
Bertempat : di Masjid Kubah Emas - Depok

2. Hari/tanggal : Sabtu, 24 Januari 2009
Jam : 08.00 pagi
Bertempat : Di Masjid Istiqlal - Jakarta

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Sdr. Agung No. Hp. 081586796303

Minggu, 14 Desember 2008

Salam kenal

assalamu'alaikum warohmatullaahi wabarokatuh

sebelumnya perkenankan saya perkenalkan diri, nama bambang dwi atmoko,
alamat jl. otista III/ komplek XI RT.007/07 kelurahan cipinang
cempedak, jatinegara - jakarta timur.
sekiranya tidak berkebaratan saya ingin bergabung pada group ikhwan
tqn suryalaya ini.
sebelumnya dan sesudahnya saya sampaikan terima kasih.

wassalamu'alaikum warohmatullaahi wabarokatuh

bambang dwi atmoko / bedi4t@yahoo.com

Jumat, 12 Desember 2008

Syeikh Abdul Qodir Jailani

Asslammu'alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya saya mohon maaf, bila pertanyaan saya ini mengganggu Anda. Dan semoga Alloh SWT memaafkan kesalahan dan dosa saya. Mohon penjelasan siapakah yg dimaksud "Ghoutsul A'zhom Syekh 'Abdul Qodir Jailani" ?
Masalahnya ditempat saya bekerja ada yg bertanya tentang perjalan Nabi Muhammad SAW ketika Malam Mi'raj :
.............................................. Rasul terpaku untuk sementara waktu melihat keadaan tersebut karena memerlukan sebuah tangga untuk menaikinya. Saat itu juga, datanglah Ghoutsul A'zhom Syekh 'Abdul Qodir Jailani bertekuk lutut di hadapan Rasul dan berkata : "Silahkan pundak hamba jadikan tangga!". Maka Rasulpun memijakkan kakinya pada pundak Syekh, lalu beliau menaiki Buroq tersebut.
Pertanyaannya: Ghoutsul A'zhom Syekh 'Abdul Qodir Jailani bisa hadir disaat itu, padahal perbedaan antara Ghoutsul A'zhom Syekh 'Abdul Qodir Jailani dengan Nabi Muhammad SAW sangat jauh, berupa apakah beliau itu. Mohon dengan segala kerendahan dapat menjelaskannya pada saya.
Zajakallah bil khoer
Wassalam
Dede Sukaryana"

IQ Comment:
Mangga silahkan ikh dan akh yang ingin menjawab via iqolbu atau langsung ke email beliau, terimakasih atas partispasinya.

Rabu, 03 Desember 2008

Mati Selagi Hidup

Mati Selagi Hidup

Hadist Nabi berbunyi :

Qoblal mautu anta mautu, yang artinya : matikan dirimu sebelum mati yang sesungguhnya.

Pada saat Inisiasi (Ma’rifat) Guru Murshid mengajarkan cara untuk menarik kesadaran sang siswa dari seluruh tubuh, naik ke pusat mata dimana ia dapat berhubungan dengan Nada Illahi, dan panarikan kesadaran ke pusat mata itu sebagai : mati selagi hidup”.

Bila saat kematian tiba, jiwa kita menarik diri ke atas, mulai dari telapak kaki sampai ke pusat mata. Setelah itu, barulah ia meninggalkan tubuh .

Bila jiwa sudah dapat menarik diri ke pusat mata, berulah tubuh tidak mempunyai jiwa lagi dan ia mati, melalui proses yang sama, kita harus menarik kesadaran kita ke pusat mata, selagi hidup kita harus mati selagi hidup, kita harus menghampakan tubuh dan membawa aliran jiwa ke suatu titik, nyaitu diantara dan di belakang ke dua mata. Begitulah “mati selagi hidup”.

Selama kita belum dapat menarik kesadaran kita ke pusat mata dan melekatkannya kepada Roh di dalam, maka kita tidak dapat mati selagi hidup, dan selama kita tidak dapat mati selagi hidup, maka kita tidak dapat memperoleh hidup yang kekal.

Perbedaan paling penting antara kematian biasa dan mati selagi hidup adalah bahwa hubungan jiwa dengan tubuh tidak terputus. Semua organ berfungsi dan jiwa dapat kembali ke dalam tubuh setelah meditasi (Ma’rifat) selesai.

“Alangkah bahagianya, seandainya engkau pada suatu malam dapat membawa jiwamu keluar dari tubuh, dan setelah meninggalkan tubuh ini, naik ke alam – alam luhur jika jiwamu telah meninggalkan tubuh engkau akan selamat dari pedang kematian engkau akan memasuki taman yang tidak mengenal musim gugur”.

Bila perhatian bekerja di bawah mata, kita mati terhadap tuhan, namun bila ia menarik diri dan berkumpul di pusat mata, kita akan hidup terhadap tuhan dan mati terhadap dunia.

Bila mereka melihat Cahaya itu, bila mereka mendengar Nada itu di dalam. Kita ini semua buta, tuli dan lumpuh, secara rohaniah kita ini seperti mati, bila mata rohani terbuka, kita akan sungguh sungguh melihat, mendengar, hidup dan langsung menempuh jalan pulang ke Tuhan.

Sebelum kita memperoleh penghayatan itu, kita tidak melihat Tuhan. Siapakah yang buta.

Orang yang tidak dapat melihat sesuatu yang ada di hadapannya. Kita semua tahu bahwa Tuhan bersemayam di dalam diri kita semua, Ia ada di dalam setiap partikel ciptaan, namun kita tidak melihat Dia – di dalam maupun di luar.

Itulah sebabnya para guru menyebut kita buta, bila mata rohani dan telinga rohani terbuka, kita akan melihat Cahaya dan mendengar Nada, nyaitu musik surgawi yang dapat membangkitkan orang mati. Guru berkata :

Lihatlah tampa mata, dengarlah tampa telinga, berjalanlah tampa kaki, bekerjalah tampa tangan, berbicaralah tampa lidah. Dengan demikian matilah selagi hidup dan hayatilah sabda Nabi “ Qoblal mautu anta mautu” Setelah itu, barulah Engkau akan bertemu dengan sang Kekasih.

Bila bimbingan seorang Guru, kita ahirnya mencapai tujuan akhir di alam terluhur melalui konsentrasi dengan penuh kasih dan kebaktian dan bersatu dengan tuhan. Kemudian kita akan mati untuk hidup selama - lamanya.

Semua orang Suci menekankan pentingnya untuk menarik kesadaran ke pusat mata dan masuk ke dalam. Mereka semua mengerjakan bahwa meditasi (Ma’rifat) adalah sekedar latihan untuk mati, agar dapat hidup selama-lamanya. Ajaran mereka mengungkapkan hal itu sejalas jelasnya , seperti yang dinyatakan oleh kutipan kutipan berikut ini :

Di dalam Al-Quran dikatakan, “Matilah sebelum saat kematian “

Atau

“Hari ini Kunjungilah tempat yang akan datang, Rumah setalah kematian”

Atau, dengan perkataan lain :

“Rumah yang ingin kau kunjungi setelah kematian, dapatkan itu dengan jalan mati selagi hidup Selama engkau tidak mati selagi hidup bagai mana engkau dapat memperolah manfa’at yang sejati ? karena itu matilah, tinggalkanlah tubuh.

Wahai manusia engkau telah mati berulang kali

Mengapa engkau ingkar kapada Alloh padahal dulunya kamu mati lalu Alloh menghidupkan kamu kemudian Dia mematikan kamu kemudian menghidupkan kamu kembali, lalu kepadanya kamu di kembalikan.(Al-Baqarah surat 2 Ayat 28)

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya, dan seperti demikianlah kamu akan di keluarkan. (Al-Ruum Surat 30 Ayat 19)

Alloh yang menciptakan kamu, kemudian memberi Rezeki kapada kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu. Adakah dari sesembahan kamu ada yang dapat berbuat sesuatupun dari demikian ? Maha suci Dia dan Maha Tinggi dari apa saja yang mereka sekutukan. (Al-Ruum Surat 30 Ayat 40)

Namun engkau tetap tinggal di belakang tirai Karena cara untuk mati sejati tidak kau pelajari.

Para Suci (Nabi) datang ke dunia ini dengan Rakhmat dan karunia tuhan, mereka tidak datang untuk menjadikannya tempat yang lebih baik maupun memperbaiki nasibnya, melainkan untuk membebaskan kita dari belengu kemelekatan dan memalingkan perhatian kita kepada Tuhan.

Mereka datang untuk membutakan kita terhadap dunia dan memberikan penglihatan untuk menghayati Tuhan.

Jika bukan kerunia-Nya, kita tidak mungkin akan memikirkan tentang perpisahan kita dari Tuhan, dan kita pun tidak akan rindu untuk pulang. Tampa karunia-Nya, kita tidak akan bertemu dengan Guru Murshid dan mengikuti jalan.

Dengan karunia-Nya, kita memperkembangkan kepercayaan kita kepada Guru Murshid. Dengan karunia-Nya kita berusaha untuk berlatih untuk melakukan meditasi (Ma’rifat). Karunia bimbingannya selalu menyertai kita.

Dengan karunia-Nya, kitya dapat memahami identitas Guru Murshid yang sesungguhny, nyaitu firman yang menjadi manusia. Dan dengan karunia-Nya kita dapat pulang ke tingkat Tuhan dan bersatu denganya. Kita benar-benar telah menggenapi tujuan hidup manusia ini.

Kita tidak lagi terpisah dari sumber kita dan pulang ke rumah abadi kita yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan dan menjadi satu dengan Tuhakita, untuk selama-lamanya. (Innalilahi Wainna ilaihi roji’un)

Resources: gagakmas.org

Kamis, 20 November 2008

Selamat bergabung new member


Selamat Datang di iQolbu Bang Saefudin

Selamat bergabung di iQolbu, bang Saefudin di Jl. Kertajaya 4 Rt.005/014 Penjaringan Jakarta Utara, semoga silahturahmi dan pertemanan ini bermanfaat untuk anda dan keluarga.

Salam team iQ

Keutamaan Sholawat

Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.

Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.

KEUTAMAAN SHALAWAT 1

Ass. Wr. Wb

Illahi anta maqshuudi wa ridhooka mathlubi a’thinii mahabbataka wa ma’rifataka

Sudara saudaraku se iman,

Mungkin sekedar mengingatkan kita kembali bahwa begitu pentingnya ber shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Karena sedemikian pentingnya maka hal ini perlu kita ketahui bersama. Marilah simak riwayat di bawah ini :

Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda,

“Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku,

‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’

Jibril berkata,

Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.’

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi,

‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.’

Malaikat itupun berkata,

‘Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.’

Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau,

‘Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.’

Rasulallah saw pun bertanya,

‘Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.’

Malaikat itupun menjawab,

‘Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “

Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim

Terima kasih atas perhatian rekan rekan semua, semoga ini bermanfaat buat kita semua.

Wass.

Igor